Friday, September 2, 2016

MY BABY MOM'S GATHERING

Dari sejak hamil aku tuh paling takut sama yang namanya nyamuk. Kebayang kan, betapa gigitan binatang sekecil itu dapat berpengaruh begitu besar untuk kesehatan kita? Apalagi waktu hamil kemarin lagi dihebohkan banget dengan virus Zika yang berbahaya bagi janin karena dapat menyebabkan mikrosefalis, yaitu kerusakan otak yang menyebabkan kepala bayi berukuran kecil. Belum lagi bahaya demam berdarah (DBD). Duh, naudzubillahi min dzalik ya. Semoga anak-anak kita semua dihindarkan dari virus berbahaya.

Nah, pas banget nih. Beberapa waktu yang lalu aku mendapat undangan untuk menghadiri #MyBabyMomsGath yang diadakan oleh My Baby di Kota Kasablanka. Menarik sekali pembahasannya, yaitu soal pencegahan virus Zika dan virus Demam Berdarah (DBD) pada anak. Kebetulan di daerah rumahku lagi banyak banget nyamuk-nyamuk nakal yang meskipun disemprot masih saja bergentayangan. Jadi pembahasan hari itu pas banget dengan ketakutanku saat ini. Karena ilmu yang didapatkan hari itu sangat bermanfaat buat ibu-ibu, terutama yang anaknya masih bayi dan balita, jadi aku kepikiran kenapa nggak dibagikan disini. Because sharing is caring, 'aite?

photo courtesy of @chachathaib

Tahu nggak sih, kalau Indonesia merupakan negara kedua dengan angka kejadian DBD tertinggi di dunia setelah Brazil? Sementara kasus virus Zika di Indonesia pertama kali ditemukan di Jambi tahun 2015 yang lalu. Virus ini cepat sekali menyebar dan sayangnya belum ditemukan obat ataupun vaksinnya. Penyebab DBD dan virus Zika sumbernya adalah gigitan nyamuk aedes aegypti. Gejala yang dialami penderita hampir sama, yaitu bintik merah pada kulit, sakit kepala dan nyeri serta demam. Masa inkubasi sekitar 2-7 hari setelah gigitan nyamuk yang terinfeksi. Yang membedakan, penderita DBD akan mengalami penurunan trombosit, mimisan hingga mual dan muntah akibat terjadi pendarahan di perut. Sementara penderita virus Zika akan muncul mata kemerahan. Bayi atau balita pun rentan terkena virus ini. Berhubung belum ditemukan vaksinasi yang dapat memerangi penyakit DBD maupun Zika, maka pengobatan yang dilakukan bersifat suportif, yakni istirahat cukup, perbanyak minum air putih, mengonsumsi obat penurun panas dan makanan bergizi. Namun sebelum terjangkiti, ada baiknya kita melakukan upaya pencegahan, yaitu dengan 3M (Mengubur, Menguras, Menutup) untuk memberantas sarang nyamuk.

Seakan menangkap kekhawatiran aku, My Baby mengeluarkan inovasi baru yaitu My Baby Minyak Telon Plus yang memiliki 2 manfaat sekaligus, yaitu untuk menghangatkan dan melindungi bayi dari gigitan nyamuk hingga 6 jam dengan kandungan alami yang aman dan tidak menimbulkan iritasi. My Baby Minyak Telon Plus mengandung Citronella Oil (minyak sereh) yang berfungsi secara aktif sebagai pengusir nyamuk dan serangga. Selain itu, dilengkapi pula oleh chamomile untuk mencegah iritasi pada kulit bayi. Sebagai pecinta minyak telon, aku sih excited banget! Selain harumnya yang enak banget di kulit bayi, Jaziel dan Jazea pun dapat terlindungi dari gigitan nyamuk nakal. Dan selama ini tiap kali ada bentol gigitan nyamuk, aku selalu olesin My Baby Minyak Telon Plus. Surprisingly, bentolnya langsung kempes lho! Yah, setidaknya ketakutan aku sebagai seorang Ibu terhadap virus Zika dan DBD sedikit teratasi setelah dibekali ilmu dan juga My Baby Minyak Telon Plus.



Nah, bonusnya nih hari itu aku juga dapat pembekalan untuk bisa membangun bonding time dengan anak. Salah satunya adalah dengan melakukan My Baby Lovely Spa yang terdiri dari Baby Massage, Baby Bath dan Baby Grooming. Tujuannya adalah untuk mengokohkan ikatan antara ibu dan anak, terutama bagi para ibu bekerja. Selain itu, kegiatan ini juga dapat menstimulasi sistem syaraf bayi. Dari 3 rangkaian kegiatan tersebut, sekitar 70% bonding dan stimulasi antara ibu dan bayi dapat terjalin ketika ibu mempraktekkan Baby Massage. Dan sisanya 30% terjalin ketika ibu melakukan Baby Bath dan Baby Grooming. Rangkaian kegiatan ini dapat dipraktikkan sendiri tanpa harus mengunjungi Baby Spa. Justru lebih baik dipraktikkan langsung oleh sang ibu pada anaknya agar terbentuk ikatan tali kasih yang yang lebih kuat. Memahami hal ini, My Baby menyediakan rangkaian produk perawatan bayi yang lengkap dan dapat digunakan pada proses kegiatan Baby Massage, Baby Bath dan Baby Grooming disertai dengan edukasi Baby Spa. Menarik banget kan? Yuk, mari mulai membangun waktu yang berkualitas dengan anak :)



MY BABY Website

Tuesday, July 26, 2016

CERITA HAMIL PASCA IVF

Bagi saya hamil ini adalah anugerah. Yah, mengingat kehamilan ini sudah sangat saya dan suami nanti-nantikan. Tapi layaknya perempuan hamil pada umumnya, saya pun mengalami beberapa symptomps yang bikin parno atau tidak mengenakkan. Saya tidak mau menyebutnya sebagai keluhan, karena kok kesannya tidak bersyukur banget. Saya hanya ingin berbagi cerita disini, sebagai pengingat buat saya sendiri dan syukur-syukur bisa bermanfaat bagi kamu yang membacanya. So here it goes.


TRIMESTER PERTAMA (1-12 minggu)
Tepat 2 minggu setelah Embryo Transfer, saya kembali ke Penang untuk menemui Dr. Devindran dan mengecek apakah saya hamil atau tidak. Alhamdulillah wa syukurilah, dari hasil tes darah bHCG saya menunjukkan kalau saya positif hamil. Selama 2 minggu penantian, saya sama sekali tidak berani untuk testpack. Sudah terlalu trauma kalau hasilnya ternyata negatif. Hasil tes bHCG saya saat itu 372,6 dengan perkiraan hamil 4 minggu. Salah seorang teman saya dari Geng TTC, Ima, memberi tahu kalau hasil bHCG tinggi bisa berpotensi memiliki anak kembar. Saat itu saya tidak mau terlalu berharap. Dikasih hamil singleton saja sudah bersyukur sekali, apalagi kembar.

Tidak banyak symptomps yang saya rasakan di awal kehamilan. Saya bahkan belum terasa mual, hanya kram biasa dan payudara yang terasa amat sangat berat. Selera makan pun masih biasa saja. Tapi di awal kehamilan ini saya tetap melanjutkan pola makan seperti masa 2 weeks wait. Ya, makan sehat tanpa MSG dan rebusan putih telur setiap harinya. Kalaupun ada beberapa makanan yang saya idam namun tidak sehat, saya minta penjualnya untuk memasak tanpa MSG dan saya makan secukupnya saja. Karena belum terlalu banyak perubahan yang saya rasakan, saya malah sempat berpikir benarkah saya hamil atau hanya khayalan semata. Apalagi ada beberapa orang yang selalu bertanya, "udah mual belum?", "ngidam apa?", dsb..

2 minggu kemudian, saya pun kembali ke Penang menjumpai Dr. Devindran untuk mengecek kondisi jantung bayi. Pagi itu, saya mulai mual dan hampir muntah. Saya pikir cuma masuk angin biasa karena belum sarapan. Saat pemeriksaan, Dr. Devindran pun menyampaikan kabar bahagia. We are expecting twins! Saat itu saya cuma bisa bengong. Antara percaya dan tidak dengan apa yang diucapkan oleh Dr. Devindran. Rasanya ingin cubit diri sendiri biar yakin kalau ini bukan mimpi.

Rasa mual mulai intense saya rasakan sepulang dari Penang. Kalau perempuan hamil biasanya mengeluh setiap kali mual, saya malah menanti-nantikan sekali.  Mual yang saya rasakan itu seperti mabok ketika melakukan perjalanan. Belum sampai ke taraf muntah, cuma mual saja dan badan seperti tidak berdaya. Pernah satu hari saya tidak merasakan mual seperti biasanya, dan saya pun langsung panik tanya sana sini termasuk Mbah Google. Yang bikin parno, salah satu artikel yang saya dapatkan malah menyebutkan kalau terjadi sesuatu pada janin jika sang ibu mulai tidak merasa mual. Beberapa sahabat saya yang sudah pernah hamil menenangkan, tidak mual bukanlah perkara yang perlu dibesar-besarkan tapi justru harus disyukuri. Sementara Ibu saya ikutan panik melihat saya yang parno berlebih. Akhirnya saya memutuskan untuk bertanya melalui email ke Dr. Devindran. Beliau menyarankan saya untuk mendatangi dokter kandungan dan melakukan pengecekan USG agar saya tenang. Ternyata memang saya saja yang parno berlebihan.

Minimnya informasi yang saya punya seputar kehamilan, membuat saya bergantung pada Mbah Google. Setiap kali ada pertanyaan, selalu saja Google yang jadi acuan saya. Padahal kan symptomps hamil pada setiap orang berbeda-beda, tidak bisa disama ratakan. Sejak hari itu saya memutuskan untuk tidak mau lagi bergantung pada Google. Lebih baik bertanya langsung pada dokter :)

Memasuki usia kehamilan 3 bulan, rasa mual dan lemas makin intese saya rasakan. Saya tidak mampu beraktivitas dan keluar rumah. Paling sesekali saja, kalau ke dokter atau lagi pengen makan sesuatu. Perjalanan di mobil membuat saya mual parah yang akhirnya berujung muntah. Pernah saya nekat pergi arisan di Gandaria City lalu malah muntah di tengah perjalanan. Untungnya di mobil ada plastik dan air mineral.

Saat pertama kali cek di Dr. Handi, dokter kandungan rujukan Dr. Devindran yang praktik di RS. Pantai Indah Kapuk, beliau menyarankan saya untuk melakukan test TORCH. Darah yang diambil saat itu cukup banyak, 5 tabung. Setelah pengambilan darah, saya agak merasa lemas dan langsung makan steak untuk mengembalikan energi. Selang beberapa minggu kemudian, saya pun melakukan test ACA, yakni pengecekan kekentalan darah karena saat itu saya sempat mendengar kalau kekentalan darah pada ibu hamil dapat menghambat perkembangan janin.

Di trimester ini, perut saya juga belum kelihatan hamil sama sekali. Tapi suami dan orang tua ngotot agar saya tetap menggunakan kursi roda kalau jalan jauh di mal. Saya sih nurut aja, karena saya juga agak takut kecapean sehingga mengeluarkan flek. Jadi saya pikir, lebih baik mencegah deh.

TRIMESTER KEDUA (13-28 minggu)
Kata orang trimester kedua adalah masa-masa paling indah selama kehamilan. Well, bisa dibilang itu juga yang saya rasakan. Mual dan muntah perlahan hilang. Sugesti janin yang sudah mulai kuat saat memasuki usia 4 bulan membuat saya semakin percaya diri. Walaupun aktivitas saya juga masih sebatas ketemuan dengan teman dan sahabat, makan enak, pokoknya hal-hal yang bikin hati saya senang dan tidak stress. Meski energi sudah mulai pulih, namun pekerjaan masih belum berani saya terima sampai saat ini. Pokoknya saya ingin kehamilan ini bebas dari rasa stress. Hehe..

Perut saya juga mulai membuncit saat memasuki usia kehamilan 19 minggu. Sebenarnya agak bikin kepikiran juga sih, setiap kali ada yang bertanya, "kok tidak kelihatan seperti hamil kembar?" atau "kok perutnya belum kelihatan?". Pertanyaan-pertanyaan seperti itu cukup bikin saya parno sih, walaupun saya selalu berusaha menyikapinya dengan santai. Apakah ada yang salah dengan janin saya? Akhirnya saya pun bertanya pada Dr. Handi. Menurut beliau, saya punya rongga perut yang cukup besar sehingga meski hamil kembar pun tidak terlalu kelihatan. Padahal setiap kali USG, berat badan si kembar selalu bertambah normal. Beliau pun menambahkan, "nanti kalau kamu sudah hamil 5-6 bulan, baru akan kelihatan perubahan drastis di perutmu".

Di usia kehamilan 22 minggu, Dr. Handi merujuk saya untuk melakukan pemeriksaan pada Dr. Azen Salim. Konon beliau adalah ahlinya dalam mendeteksi kelainan pada janin. Saat itu saya dan suami mendatangi praktiknya di Archa Clinic di BSD. Atas instruksi Dr. Handi, saya membuat appointment 2 minggu sebelum kedatangan. Kliniknya cukup bagus, bersih dan yang paling penting antrinya nggak lama. Dokternya pun cukup informatif, ngajakin babies-nya ngobrol dan becanda terus sampai-sampai saya yang lagi tiduran ikutan ketawa mendengarnya. Saat itu kami juga melakukan USG 4D yang cukup bikin terharu biru setiap kali melihat foto dan videonya. Alhamdulillah, semua pengecekan hasilnya normal. Si suami yang juga parnoan bertanya ke dokter, "Dok, benar kan semua hasilnya bagus? Dokter ngomong jujur kan, nggak ada yang ditutup-tutupi?". Si Dr Azen pun menjawab, "Saya selalu ngomong apa adanya pada pasien. Kalau memang ada masalah, pasti saya utarakan agar kedua orang tuanya bisa lebih siap".



Perjalanan kehamilan saya dari trimester pertama ke kedua terbilang cukup lancar. Tidak ada keluhan yang berarti, hanya rasa paranoid berlebihan saja yang sangat mengganggu pikiran saya. Hanya saja saya sempat merasa gatal-gatal di seluruh badan. Rasanya ingin digaruk sekuat tenaga, padahal banyak yang melarang. Nafsu makan sayapun cukup menggila. Total berat badan saya naiknya juga cukup drastis, 10kg dalam waktu 4 bulan. Menurut Dr. Handi, setiap tubuh punya hormon yang berbeda-beda. Tapi saat itu beliau menyarankan agar saya mengurangi karbohidrat dan memperbanyak protein dan sayuran hijau. Bukan apa-apa, berat badan yang naik drastis pada ibu hamil dapat menimbulkan resiko preeklampsia, gestational diabetes, dan penyakit berbahaya lainnya. Sejak saat itu saya mulai sedikit menjaga makan, demi kepentingan saya sendiri dan juga si kembar.

TRIMESTER KETIGA (29 minggu-37 minggu)
Memasuki trimester ketiga rasanya semakin deg-degan. Antara berasa ingin terus hamil sama pengen cepat-cepat ketemu si kembar. Kenapa pengen terus hamil? Karena saya pribadi ngerasa bahagia banget ada 2 malaikat yang menyatu dengan badan saya yang terus saya bawa kemana-mana. Trimester ketiga ini sudah lebih santai. Meskipun perut semakin besar dan berat, tapi saya menjalaninya dengan bahagia. Nafsu makan sudah lebih terkontrol. Tidak segragas trimester kedua. Setiap kali saya makan agak banyak, langsung berasa bega banget dan sesak nafas. Mungkin kapasitas perut sudah tidak mencukupi saat itu. Kontrol dokterpun jadi lebih sering, setiap minggu untuk mengecek perkembangan si kembar. Sempat beberapa kali harus CTG guna mengecek detak jantung si kembar dan jarak kontraksi. Pertama kali CTG saat usia kehamilan 34 minggu setelah melakukan suntik pematangan paru. Suntik ini dianjurkan bagi ibu hamil kembar dan beresiko prematur. Suntik pematangan paru sendiri dilakukan sebanyak 3 kali. Saat suntik pertama entah mengapa saya merasa mules. Entah efek suntik atau salah makan. Tapi selanjutnya justru baik-baik saja.

Memasuki usia hamil tua, Dr. Handi mulai mewanti-wanti saya untuk mulai lebih sensitif terhadap gerakan si kembar. Jika sewaktu-waktu saya merasakan kontraksi atau merasa gerakannya melambat atau berkurang, saya disarankan untuk segera ke RS terdekat dan melakukan CTG. Yah, namanya ibu-ibu parno, pernah saya buru-buru ke RS PIK karena panik pagi-pagi tidak merasakan gerakan. Malah saya sempat skip salah satu kelas AIMI karena ngerasa gerakan babies yang melambat. Untunglah, setelah dicek ternyata si kembar sepertinya sedang tidur makanya saat itu saya tidak merasakan adanya gerakan. Tapi pernah saat sedang CTG, detak jantung salah satu baby melambat. Ternyata setelah di USG, ruang dalam perut saya sudah mulai menyempit karena ukuran bayi yang semakin besar sehingga kepala keduanya sempat beradu. Tapi alhamdulillah tidak ada yang serius.

Memasuki usia kehamilan 35 minggu, Dr. Handi pun mulai menanyakan tanggal pilihan saya dan suami untuk melakukan operasi cesar. Katanya, kalau saya ingin mengeluarkan si kembar di usia kehamilan 36 minggu sebenarnya sudah aman. Namun akan lebih baik untuk menunggu hingga 38 minggu agar organ tubuh mereka semakin sempurna. Jika di awal kehamilan berat badan si kembar naik dengan normal, namun mendekati hari lahir berat badan mereka malah stagnan. Kata Dr. Handi, hal ini biasa terjadi pada kehamilan kembar mengingat ruang gerak yang semakin sempit. Jika tidak terdeteksi ada kelainan, berat badan rendah tidak perlu dikhawatirkan.


Tulisan mengenai pengalaman hamil ini sebenarnya sudah saya tulis saat masih hamil namun baru diselesaikan saat si kembar berusia 2 bulan 6 hari. Semoga bisa bermanfaat bagi yang juga tengah hamil kembar. Pengalaman melahirkan akan saya bagikan pada post selanjutnya.

Monday, March 21, 2016

Common Questions During Two Weeks Wait

Setelah melaksanakan prosedur IVF selama hampir 2 minggu, lalu masuklah ke masa 2 minggu yang paling mendebarkan, atau yang lebih dikenal dengan istilah 2 weeks wait (2WW). Saya pribadi justru merasakan nervous berlebihan itu saat memasuki 1 minggu terakhir. 1 minggu pertama justru masih terasa santai dan rileks. Entah mengapa.

Saya akan coba merangkum beberapa pertanyaan beserta jawaban versi saya yang selama 2WW terus bersileweran di benak. Sekali lagi perlu saya tegaskan, jawaban saya disini murni pendapat pribadi dan hasil sharing dengan beberapa teman. Saya ingin bagikan disini siapa tahu bisa bermanfaat bagi mereka yang juga lagi deg-degan melalui proses 2WW. Okay, here we go.

 Q: Haruskah bedrest saat 2WW? 
 A: Sebenarnya tidak harus. Tidak ada fakta medis yang mensahkan kalau bedrest total akan menjamin keberhasilan proses IVF. Namun banyak yang ketakutan dan paranoid kalau embrionya tidak akan menempel di rahim kalau melakukan gerak yang terlalu banyak, termasuk saya. Saya sendiri cukup ketakutan kalau sudah terlalu banyak jalan. Takut tiba-tiba flek dan embrionya tidak menempel. Dan karena saya belum pernah hamil, jadi saya tidak tahu seberapa kuat rahim saya. Apalagi mendengar begitu banyak teman yang keguguran saat hamil muda karena kecapean. Maka, saya memutuskan untuk bedrest total, tidak banyak gerak, tidak banyak pikiran dan berusaha rileks dan tidak stress. Jadi, kalau kamu termasuk orang yang paranoid seperti saya, maka lebih baik bedrest daripada harus menyesal di kemudian hari kalau-kalau proses IVF kamu gagal. Tapi kalau sudah bedrest belum juga berhasil, setidaknya tidak ada yang perlu kamu sesali karena telah berusaha menjaganya semaksimal mungkin.

 
Q: Apa yang harus dikonsumsi selama 2WW?
A: Selama 2WW, perlakukan tubuh layaknya sedang hamil. Makan makanan bergizi, kaya protein, mengandung asam folat. Dokter menganjurkan saya untuk terus mengonsumsi putih telur rebus sebanyak 2-3 butir per hari. Ibu saya menambahkan bubur kacang hijau dan susu kedelai sebagai penambah protein. Dan atas saran salah seorang teman saya yang juga lagi TTC, Ima, setiap hari selama 2 minggu itu saya selalu makan ikan gabus. Konon katanya ikan gabus mengandung protein tinggi yang sangat bagus untuk ibu hamil. Sesekali keberadaan ikan gabus digantikan oleh ikan lele yang juga mengandung protein tinggi. Untuk sayuran, saya pilih bayam dan brokoli yang mengadung asam folat. 

Q: Apa yang tidak boleh dikonsumsi selama 2WW?
A: Saat saya menanyakan ini ke Dr. Dev tepat setelah embryo transfer, beliau menjawab "tiger meat, elephant meat". Tentu saja jawaban candaan. Jadi maksudnya, boleh makan apa saja yang kita inginkan selama itu sehat dan tidak berlebihan. Kalau saya pribadi menghindari makanan yang mengandung MSG, bakso, dan jajanan enak namun tidak sehat lainnya. Saya juga stop minuman dingin, termasuk es, soda. Agar tidak dehidrasi, saya juga banyak minum air putih, minimal 8 gelas sehari. 

Q: Normalkah kalau keluar flek?
A: Di hari kedua setelah embryo transfer, saya sempat keluar flek berwarna pink. Karena panik, saya langsung menelepon klinik. Menurut suster, flek disebabkan karena kateter yang masuk setelah proses embryo transfer. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan selama darah yang keluar tidak banyak. 

Q: Apa yang dirasakan selama 2WW?
A: Di 1 minggu terakhir penantian, saya mulai merasakan payudara yang mulai membesar dan rasanya berat sekali. Terutama saat baru bangun dari tempat tidur rasanya sulit sekali mengangkat kedua payudara. Lalu disertai dengan perut kram persis seperti mau mens. Perut juga terkadang terasa ngilu dan ketarik, terutama saat bersin, kentut bahkan ketawa. Hehe.

Q: Bagaimana posisi shalat selama 2WW?
A: Seharusnya selama 2WW bisa saja shalat dalam posisi berdiri seperti biasa. Namun saya pribadi menjalankan ibadah shalat dalam posisi duduk.

Sejauh ini hanya itu yang sering ditanyakan orang-orang pada saya perihal masa 2WW. Please, feel free to comment below kalau memang ada pertanyaan yang sekiranya belum tertera di postingan ini. Sebisa mungkin akan saya jawab :)

TWO WEEKS WAIT

Setelah proses Embryo Transfer (ET) yang dilakukan pada tanggal 18 September 2015, masuklah saya ke masa-masa yang katanya paling mendebarkan. Yakni 2 weeks wait (2WW) atau menunggu hasil beta HCG selama 2 minggu. Bagi saya, penantian di satu minggu pertama justru tidak terasa sama sekali. Namun ketika mulai memasuki minggu kedua, jantung rasanya semakin berdebar, rasa penasaran semakin memuncak plus parno yang berlebihan pula. Saya menghabiskan 2WW saya di rumah Ibu saya di Aceh. Saudara-saudara dan teman-teman yang datang berkunjung cukup menghibur dan mengalihkan pikiran saya. Selama 2 minggu pula saya membatasi gerak dan asupan makanan. Ruang gerak saya cukup sebatas tempat tidur, kamar mandi saja. Makanan selalu disajikan di kamar. Bahkan shalat pun saya lakukan dalam keadaan duduk. Bosan? Tentu saja. Tapi saya pikir ini adalah keputusan yang telah saya ambil dan saya harus bertanggung jawab dalam menjaganya. Memang tidak ada penelitian yang membuktikan bahwa bedrest dapat meningkatkan peluang keberhasilan IVF. Tapi setidaknya saya telah berusaha semampu saya sehingga kalaupun usaha kali ini gagal, tidak akan ada penyesalan nantinya.

Tiba masa pembagian raport, saya dan Ibu saya pun berangkat ke Penang. Sementara suami berhalangan menemani karena kebetulan sedang bertugas di luar kota. Sejak saya di Aceh pun, suami tetap di Jakarta karena harus masuk kantor. Di bandara, saya selalu menggunakan wheelchair karena khawatir jalan jauh dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan pada embrio. Setiap ada yang bertanya, untuk menyingkat waktu saya selalu bilang kalau saya baru habis operasi. Yah, daripada harus menjelaskan panjang lebar nanti malah curhat jadinya. Hehe.

Di hari H, saya dan Ibu pagi-pagi sekali sudah berangkat ke rumah sakit. Antrian pengambilan darah hari itu rasanya lama sekali. Untungnya hasil langsung keluar 2 jam setelah darah diambil di hari itu juga. Awalnya saya dan Ibu berencana untuk makan siang diluar sambil menunggu hasil. Namun karena rasanya tidak tenang, maka kami memutuskan untuk tetap menunggu di rumah sakit. Sambil menunggu, kami bertemu dan mengobrol dengan beberapa orang Indonesia yang juga hendak menemui Dr. Dev. Berulang kali saya bertanya pada Ibu, "Ma, feeling Mama gimana?". Awalnya Ibu saya masih sok cool. Mungkin agar tidak menambah kepanikan saya. Tapi lama kelamaan, justru beliau yang lebih nervous dan berkali-kali bolak balik ke kamar kecil. Tiap kali suster lewat, ia selalu memberi kode kalau hasil kami belum keluar dan kami masih disuruh untuk sabar menunggu. Penantian 2 jam di ruang tunggu klinik dokter mengalahkan penantian 2 minggu. Sampai akhirnya nama saya pun dipanggil untuk masuk ke ruangan. Seperti biasa, Dr Dev selalu menyambut kami dengan senyuman sambil berkata, "So, where is Teuku?". Lalu sayapun menjawab, "He can not come. He's in Makassar right now". Dokter pun menyilakan kami untuk duduk seraya berkata, "You can call him now and tell him the good news. You're pregnant. Congratulations!". Saat mendengar kata-kata itu saya cuma bisa bengong, "Really doc? I think I'm gonna cry". Mendengar jawaban saya, Dr Dev dengan santai menjawab, "Well, you can cry now. Go hug your mom".

Air mata pun langsung membanjiri mata saya hari itu. Dan kalau diingat-ingat agak memalukan, karena saya nangisnya sampai sesengukan. Dan tentunya bukan saya orang pertama yang nangis bahagia di ruangan itu jadi sepertinya Dr Dev sudah cukup terbiasa. Setelah menyampaikan berita bahagia itu, Dr Dev pun meminta saya untuk melakukan USG untuk melihat keadaan embrio. Ukurannya masih sangat kecil. Dokterpun memberi wanti-wanti pada saya untuk tidak terlalu over excited atas berita ini karena memang masih terlalu dini untuk mengumbar kebahagiaan. Beliau mengingatkan saya untuk terus makan sehat, menjaga kandungan saya dan kembali lagi ke Penang 2 minggu kemudian untuk memastikan apakah embrio benar menempel di rahim dan juga mengecek kesehatan janin.



Saya pikir rasa parno dan was-was akan berakhir di masa penantian 2 minggu. Ternyata saya salah besar. 2 minggu setelah mengetahui saya positif hamil, saya masih belum percaya. Bahkan awalnya saya berniat untuk membeli testpack untuk memastikan kehamilan. Namun karena takut malah menambah keparnoan maka saya urungkan niat tersebut. Selama ini saya tidak merasa hamil sama sekali. Ciri-ciri hamil juga belum saya rasakan. Malah saya sempat berpikir, apa mungkin hasil darah saya tertukar dengan orang lain. Atau mungkin terjadi sesuatu pada kehamilan saya. Duh, benar-benar parno berlebihan yang justru bikin capek sendiri. Jangan ditiru ya!

Lalu saya pun kembali ke klinik Dr. Dev 2 minggu setelah pengecekan pertama. Kali ini saya berangkat bersama dengan kakak ipar yang juga kebetulan ingin berkonsultasi dengan Dr. Dev. Awalnya saya agak khawatir karena Ibu dan suami yang tidak ikutan. Bagaimana kalau nanti menerima kabar buruk lalu tidak ada mereka yang menenangkan saya. Lagi-lagi pikiran buruk yang menghantui. Namun saya coba berpikir positif kalau janin yang ada dalam kandungan saya dalam keadaan sehat tidak kurang suatu apapun. Kedatangan kali ini tidak ada pengambilan darah hanya saja dokter melakukan pemeriksaan USG untuk mengecek janin. Tak disangka, kali ini saya kembali menerima kabar bahagia. Ada dua kantong janin yang terdeteksi melalui alat USG. Namun dokter kembali melakukan transvaginal untuk memastikan keberadaannya. Alhamdulillah, usia janin saya saat itu sudah masuk 6 minggu. "Can you see the flickerings? That's the babies' hearts," jelas dokter. "Your babies look like spectacles," guraunya sambil memperlihatkan layar USG. Lagi-lagi saya cuma bisa bengong dan kehilangan kata. Dan lagi-lagi dokter mengingatkan saya kalau kehamilan kembar harus dijaga dengan hati-hati karena resikonya lebih tinggi. Tadinya saya ingin menghabiskan trimester pertama di Aceh agar dekat dengan orang tua. Namun dokter tidak mengizinkan. Beliau menyarankan saya agar segera kembali ke Jakarta dan melakukan pengecekan dengan Dr. Handi.


Alhamdulillah, Allah menjawab doa-doa kami. Gagal berangkat haji lalu diberikan hadiah berupa kehamilan. Namun perjalanan saya dan suami belum berakhir. Kami masih punya kewajiban untuk dapat menjaga kehamilan ini agar calon anak-anak kami nanti bisa tumbuh sehat, sholeh/sholehah, tidak kurang suatu apapun. Mohon doanya ya, teman-teman.

Selama ini cukup banyak yang menghubungi saya untuk menanyakan apa yang saya rasakan setelah proses Embryo Transfer. Jawabnya, payudara terasa beraaaaat banget dan perut kram seperti mau mens. Tapi efek ini tentu saja berbeda pada tiap orang. Saran saya, selama 2WW, teruslah berpikiran positif, jangan terlalu banyak googling dan mendengar omongan orang karena itu justru menambah keparnoan. Dan yang paling utama, berpasrah diri dan teruslah berdoa. Hanya itu usaha akhir yang bisa kita sebagai manusia lakukan. Berserah diri pada kehendak Tuhan.

Oya, sedikit berbagi soal makanan yang saya konsumsi selama 2WW (ini juga banyak yang nanyain). Berikut listnya ya:
1. Rebusan putih telur (ini WAJIB ya, non negotiable)
2. Alpukat
3. Kacang ijo. Bisa diminum sarinya saja atau dibuat bubur.
4. Sayuran hijau, dimasak tanpa MSG sama sekali.
5. Ikan lele dan ikan gabus. Katanya sih kedua jenis ikan ini mengandung protein dan gizi tinggi.
6. Usahakan makan makanan yang bergizi dan non MSG selama 2WW
7. Hindari atau kurangi makanan pedas agar mencegah diare

Postingan ini memang sudah teramat sangat telat. Tapi saya berharap, semoga sharing dari saya dapat membantu teman-teman yang sedang berjuang mendapatkan momongan. Semoga cerita dan perjuangan kami dapat memberi harapan bagi kalian yang juga tengah berjuang. Terus semangat ya!

Tuesday, October 6, 2015

TRYING TO CONCEIVE


Everyone has their own trying to conceive stories. And here goes mine.

Saya dan suami menikah di awal tahun 2012. Sejak awal menikah, kami tidak pernah berencana menunda kehamilan. Selayaknya pasangan pada umumnya, beragam pertanyaan selalu kami hadapi. Mulai dari pertanyaan yang bernada perhatian, kepo atau sekedar basa basi. Semuanya tidak pernah saya ambil pusing, karena toh yang menjalani kami berdua. Namun pertanyaan paling juara adalah, "gimana perasaan kamu sudah 3 tahun nikah tapi belum punya anak?" atau "kamu belum punya anak kok tidak mau ikhtiar?". Hellooooo, emang perlu ya saya bikin pengumuman usaha apa saja yang kami tempuh untuk mendapatkan keturunan? Atau harus ya saya sedih terus memikirkan kenapa Allah belum mempercayakan keturunan pada kami? Selama ini saya percaya, manusia cuma bisa berusaha, Allah penentunya.


Saya rasa sekarang adalah waktu yang tepat untuk berbagi perjalanan kami dalam memiliki keturunan. Karena saya yakin, cukup banyak pasangan di luar sana yang juga mengalami kegalauan yang saya dan suami rasakan.


***

Setelah 6 bulan menikah dan tak kunjung hamil, saya dan suami mulai khawatir. Kamipun mendatangi salah satu dokter di RS Bunda Cikini. Seperti prosedural dokter kandungan pada umumnya, saya pun diperiksa melalui transvaginal untuk pertama kalinya. Entah karena parno atau tidak rileks, sayapun muntah-muntah setelahnya. Hasil dari dokter, tidak ditemukan masalah dengan rahim saya. Lalu dokterpun menyarankan agar kami melakukan tes darah yang saya lupa detailsnya dan suami menjalani tes sperma. Setelah semua hasil keluar, kamipun kembali ke dokter. Tapi yang bikin kaget, saat melihat hasil darah saya dan suami, si dokter tersebut dengan santainya bilang, "oh, ini sih nggak akan bisa hamil". Mendengar omongan seperti itu tentu membuat saya dan suami shock berat. "Loh, kenapa dok?", tanya suami. Lalu masih tanpa rasa bersalah si dokter pun mengoreksi, "oh, ini hasil suami. Bisa sih kalau gitu". Ternyata beliau terbalik melihat hasil darah saya. Setelah itu saya dan suami pun berjanji kalau kami tidak akan pernah lagi kembali ke dokter tersebut. Jadi intinya, hasil darah saya dan suami terbilang bagus. Hanya saja ada masalah dengan hasil sperma suami.


Bersyukur sekali saya punya suami yang kooperatif. Ia suka rela ikut menemui dokter  dan mengonsumsi obat-obatan yang diberikan demi kebaikan kami bersama. Karena saya tahu, banyak sekali lelaki yang gengsi untuk memeriksakan dirinya. Seolah istrinya saja yang punya masalah ketika belum punya keturunan. Begitu pula dengan pandangan sosial di masyarakat kita yang selalu menganggap wanita adalah sumbernya. Perlu diketahui, untuk memulai program seperti ini, diperlukan kerja sama dan komunikasi yang baik dari suami istri tanpa memikirkan ego. Ini adalah ujian pertama, menurut saya. Mengakui kalau kita punya masalah dan mau memperbaikinya.


Berbekal tanya sana sini, termasuk googling yang tiada henti, kamipun mencari androlog yang bisa mengatasi masalah pada suami. Kami menemukan salah satu androlog yang praktik di RS Sam Marie. Cuma karena parno dengan RS Sam Marie yang terkenal dengan teori alergi sperma pada hampir semua pasiennya, kamipun menjumpai dokter tersebut di praktiknya di RS Sayyidah. Ternyata ditemukan ada varikokel pada suami. Namun dokter tidak menganjurkan operasi. Beliau hanya memberi kami berbagai macam vitamin. Seiring perjalanan, kamipun menemui shinshe di wilayah Mangga Dua. Namun sebelum sempat berhasil, shinshe tersebut meninggal dunia. Emang ya, nggak rejeki. Kamipun kembali ke pengobatan medis. Morula jadi pilihan kami saat itu. Sengaja kami pilih Dr. Ivan Sini karena kami tahu beliau yang terbaik di bidangnya. Atas saran beliau, kamipun menjalani proses inseminasi. Namun sayang, pada saat hari H, Dr. Ivan yang sibuknya naudzubillah itu berhalangan hadir sehingga digantikan oleh Dr. Anggi. Entah apa penyebabnya, inseminasi pertama kami gagal dan jadwal mens saya justru datang lebih awal. Selang beberapa bulan, saat menemani orang tua check up ke Island Hospital di Penang, saya pun iseng ketemu salah satu dokter ahli fertilitas disana. Pemilihan dokter saya lakukan secara random dan tanpa riset sama sekali. Pilihan saya jatuh pada Dr. Eric Soh Boon Swee. Tanpa kehadiran suami, dokter langsung menjadwalkan inseminasi di bulan berikutnya. Namun inseminasi kedua ini kembali gagal.


Kembali ke Jakarta, suami bertemu dengan salah seorang temannya yang ternyata juga punya permasalahan yang sama. Teman tersebut berhasil hamil alami setelah menemui salah satu dokter ahli fertilitas di Mount Elizabeth, Singapura. Saya lupa namanya. Tapi melihat resume-nya, ia cukup terkenal dan sering mengadakan seminar di Jakarta. Kamipun memutuskan untuk menemui dokter tersebut. Beliau sangat optimis kalau kami bisa hamil alami karena berdasarkan hasil transvaginal telur saya kuantitasnya cukup banyak. Sementara untuk sperma suami dapat diperbaiki dengan bantuan vitamin dan mengubah pola hidup. Menghindari panas di sekitar selangkangan, mandi dengan air dingin, berolah raga, kurangi intensitas naik sepeda, mengganti celana dalam dengan boxer berbahan satin, berhenti merokok dan no alcohol. Saat itu saya juga diberi resep obat suntik pembesar telur (saya lupa namanya) yang disuntikkan mulai hari ke-2 menstruasi. Biaya kami kali ini juga cukup mahal. Kalau dihitung-hitung, biaya vitamin dan obat suntik sudah menyamai biaya 2 kali inseminasi. Namun sayang, usaha kami kali ini juga belum membuahkan hasil.


Di salah satu perjumpaan, saya bertemu dengan salah seorang teman yang berhasil dikaruniai anak melalu proses IVF atau yang lebih dikenal dengan istilah bayi tabung. Saat itu saya dan suami masih belum siap mental untuk menjalani IVF. Apalagi selama ini dokter yang kami temui semuanya masih optimis kalau kami bisa hamil alami. Jadi saya pikir, biarlah IVF menjadi jalan terakhir bagi kami kalau sudah "mentok" nanti. Setiap kali bertemu dokter, tidak pernah sekalipun kami membahas kemungkinan IVF. Sampai akhirnya saya membaca perjuangan Alodita untuk memperoleh buah hati. Saat itu saya sudah langsung tertarik untuk berkunjung ke Penang dan menjumpai Dr. Devindran di Loh Guan Lye. Kami juga masih menimbang-nimbang plus minusnya IVF di Jakarta dan Penang. Terkendala jarak dan waktu yang terbatas, saya dan suami terlebih dahulu menemui Dr. Budi Wiweko di RS Yasmin RSCM. Saya sudah sempat menjalani HSG dan tes darah namun entah mengapa setahun berlalu, saya tak kunjung kembali ke Dr. Budi. Padahal saya banyak mendengar langsung cerita sukses mendapatkan momongan berkat bantuan beliau. Mungkin ini yang disebut belum berjodoh. 


Tahun 2015, saya dan suami mendapatkan kesempatan untuk naik haji. Kami tidak ingin menunda naik haji untuk mendahului program IVF. Saat itu saya pikir, bagaimana jadinya kalau program IVF ini gagal dan saya malah membatalkan untuk berkunjung ke tanah suci. Udahlah dosa terus ruginya dua kali, dong. Hasil kesepakatan dengan suami, kami akan naik haji dulu di tahun ini dan berhenti dari segala macam program agar bisa fokus beribadah nantinya. Sebenarnya sambil berharap bisa dapat mukjizat untuk tiba-tiba hamil alami juga sih.


Namun manusia cuma bisa berencana. Tuhan juga yang menentukan. Tiba-tiba mendapat kabar dari travel agent kalau quota naik haji kami baru diapprove untuk tahun depan sehingga gagal berangkat di tahun ini. Sedih, tentunya. Namun saya dan suami langsung berpikir, mungkin ini adalah petunjuk Allah agar kami bisa memulai program IVF terlebih dahulu. Disaat saya dan suami galau menentukan dokter di Jakarta atau Penang, seorang teman memberikan link ke blognya Sheggario yang berhasil hamil alami setelah kunjungannya ke Dr Dev. Setelah membaca pengalamannya, barulah saya dan suami mantap memutuskan kalau kami akan menemui Dr. Dev secepatnya.


AGUSTUS 2015


Pertengahan Agustus 2015, kami mulai menemui Dr. Dev. Berdasarkan hasil pertemuan dokter selama ini, saya dan suami mempersiapkan diri kalau ternyata suami diharuskan operasi. Sama sekali tidak terpikir oleh saya kalau ternyata justru saya yang diharuskan menjalani laparoskopi. Ketika dicek, ditemukan endometriosis di rahim saya. Saat itu saya shock, karena selama ini terlalu fokus untuk memperbaiki kualitas sperma suami sampai melupakan kondisi rahim saya sendiri. Dokterpun langsung menjadwalkan laparoskopi keesokan harinya. Tanpa persiapan apapun, hanya berbekal percaya pada dokter sayapun menjalani laparoskopi. Namun dokter menenangkan kami, kalau ini adalah operasi kecil. Setelah laparoskopi, sayapun diperbolehkan pulang. Namun karena asuransi, saya diharuskan untuk menginap satu malam. Awalnya saya meminta kamar kelas 1 agar suami bisa ikut menemani. Tapi dokter tidak mengijinkan. Menurut beliau, tidak perlu karena di kamar sharing juga suster akan rajin memantau keadaan. Akhirnya saya menginap di rumah sakit, sementara suami kembali ke hotel. 


Rasanya setelah laparoskopi? Nggak berasa apapun. Saya mulai dibius sebelum masuk ke ruangan operasi. Saat itu jam 11 siang. Ketika setengah sadar, saya langsung melihat jam dan ternyata sudah jam 1 siang. Karena tidak merasakan apapun, saya bahkan sempat bertanya pada suster di recovery room, "have I done?". Lucu juga sih kalau diingat-ingat. Yang tersisa setelah operasi cuma 3 baret kecil. Alhamdulillah, operasi berlangsung lancar dan tidak ditemukan adanya sumbatan apapun di saluran tuba saya. Ketika bertemu dokter, beliau menyarankan untuk langsung menjalankan program IVF di bulan berikutnya. Dan kali ini saya dan suami juga merasa lebih siap. Insya Allah Dr Devindran adalah jalan Tuhan untuk memberikan kami momongan. Amin.


 SEPTEMBER 2015 
 

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Saya berhenti sementara dari semua pekerjaan. Agak bikin kaget banyak orang sih, karena rencana IVF ini persiapannya terbilang cukup singkat. Tapi saya percayakan kata dokter. Menurut beliau, jika saya menunda program IVF, maka saya harus minum obat penunda mens agar endometriosisnya tidak kembali. Sebelum berangkat, saya pastikan agar semuanya under control sehingga tidak akan membuat saya stres nantinya saat memulai program. Dokter memprediksi jadwal haid saya akan datang lebih cepat setelah laparoskopi. Namun saya dan suami berangkat ke Penang sebelum jadwal haid karena ingin menemui dokter terlebih dahulu. Di hari ke-2 mens, jadwal suntik saya pun dimulai. Seorang suster mengajarkan saya cara meracik obat dan menyuntiknya di area perut. Sebenarnya dokter menyarankan agar suntikan kedua keesokannya dapat dilakukan di rumah sakit agar saya bisa menunjukkan pada suster kalau saya melakukannya dengan benar. Namun setelah percobaan pertama, suster bilang kalau saya bisa melanjutkan suntiknya sendiri tanpa harus kembali ke rumah sakit. Katanya, saya terlihat percaya diri saat memegang jarum suntik dan tidak gemetaran sama sekali. Yah, mengingat suntik menyuntik ini sudah pernah beberapa kali saya jalani sebelumnya. 

Di suntikan hari ke-5, saya kembali ke dokter untuk mengecek perkembangan telur. Saya sempat syok dan down saat dokter bilang jumlah telur yang ada di rahim saya cuma ada 8 telur. Kenapa syok? Karena selama 3,5 tahun bolak balik dokter, semuanya bilang telur saya banyak. Bahkan hasil HSG setahun yang lalu juga menunjukkan demikian. Sedih dan hopeless. Kata Dr. Dev, ini biasa terjadi pada wanita yang memiliki riwayat endometriosis. Jumlah telur akan menurun, katanya. Beliau pun menganjurkan saya untuk mengonsumsi putih telur sebanyak 4 butir per hari. Tidak puas dengan hanya mendengar kata dokter, saya pun iseng googling dan tanya sana sini. Benar saja. Banyak yang membesarkan hati saya bahwa kuantitas tidak menentukan keberhasilan IVF, melainkan kualitas. Saya kembali bersemangat mengonsumsi telur. Meski rasanya hampir muntah ngebayanginnya, tapi saya kembali memotivasi diri saya bahwa ini adalah untuk kebaikan saya sendiri. Hari pertama kedua sih masih semangat makan telur, tapi di hari-hari berikutnya saya sudah mati rasa. Tapi demi ya demi...

Tiba saat OPU (Ovum Pick Up) tiba, di tanggal 16 September 2015. Kebetulan hari itu adalah tanggal merah memperingati Hari Malaysia. Tapi Dr Dev tetap masuk karena memang jadwal OPU tidak dapat diganggu gugat. Saya masih deg-degan tiada henti. Apalagi mengingat jumlah telur yang tidak seberapa itu. Sebelum masuk ruangan operasi, saat ganti baju saya menyempatkan diri untuk berwudhu agar pikiran bisa lebih tenang. Tidak henti-hentinya saya berzikir dan membaca semua hafalan yang terlintas di kepala. Berbeda dengan saat laparoskopi, ketika menuju ruangan operasi saya masih dalam keadaan sadar. Deg-degannya berlipat ganda. Saya baru dibius ketika dokter tiba. Itu juga katanya bukan bius total. Tapi saya sama sekali tidak ingat apa yang terjadi di ruangan itu. Yang saya ingat betapa saya meracau nggak jelas dan kebanyakan soal makanan. Kebiasaan banget kalau teler, yang kebayang pasti makanan terus deh. Hehe. Alhamdulillah, proses pengambilan telur berjalan lancar. Saatnya menunggu kabar dari klinik mengenai embrio yang akan ditransfer nantinya. 

Selama menjalani proses suntik menyuntik di Penang, saya menyewa salah satu kamar di bungalow milik Mrs. Candy Bee di daerah Tanjung Bungah. Lokasinya cukup jauh dari rumah sakit, namun daerahnya sangat tenang dan bisa jalan kaki ke pantai yang letaknya di seberang bungalow. Selain itu, rumahnya bersih dan Mrs Bee juga sangat baik pada kami. Tampaknya pasien IVF diperlakukan sedikit istimewa. Saya tinggal disana selama 2 minggu. Namun setelah OPU, kami memutuskan untuk pindah ke hotel mengingat kamar yang ada di lantai atas. Saya agak parno naik turun tangga dan bepergian jauh naik mobil. Makanya memutuskan untuk pindah ke hotel dekat rumah sakit. 

Satu hari setelah OPU, kami tak kunjung menerima kabar apapun dari klinik. Saya dan suami mulai resah memikirkan kualitas embrio kami. Takut kalau ada apa-apa yang menghambat proses. Akhirnya karena tak sabar, suami pun menelepon klinik menanyakan kabar. Suster yang mengangkat telepon  memberi tahu kalau kami dapat melakukan ET (Embryo Transfer) keesokan harinya di tanggal 18 September 2015. Rasa deg-degan masih menggemuruh memikirkan kualitas embrio. Namun saya dan suami cuma bisa tawakkal berserah diri. Kami pasrah dengan segala hasil. Sesaat sebelum proses ET, embryologist menghampiri saya yang sudah bersiap masuk ke ruangan operasi. Ia mengabarkan mengenai kualitas embrio kami. Kebijakan di Loh Guan Lye, embrio yang dapat dimasukkan cuma 2. Dan yang dibekukan 2. Sehingga embrio yang diperlukan oleh pasien hanya 4 saja. Alhamdulillah, kami mendapatkan 2 embrio dengan grade 5 (yang paling tinggi) dan 2 embrio dengan grade 4. Di hari itu yang dimasukkan adalah 1 embrio dengan grade 5 dan grade 4. Sisanya dibekukan untuk proses selanjutnya. 


Saat proses ET, tidak dibius sama sekali. Semuanya dilakukan dengan kondisi pasien dalam keadaan sadar. Rasa sakit masuknya kateter tertutupi oleh rasa malu karena harus ngangkang di hadapan dokter dan suster. Tapi semuanya menenangkan saya. Bahkan sebelum proses ET, saya masih sempat bercanda dengan Dr. Dev dan para suster di ruangan. Proses ET dilakukan di ruangan operasi, tempat OPU dilakukan. Oleh karena itu, suami tidak diperkenankan masuk. Selama proses berlangsung, saya menggenggam erat selimut yang menutupi bagian kaki saya. Untuk mengurangi rasa gugup dan pikiran yang kesana kesini. Melihat saya yang bereaksi seperti itu, salah seorang suster berinisiatif menggenggam tangan saya di sepanjang proses sehingga saya bisa sedikit rileks. Prosesnya juga cuma 15 menit. Sempat tegang sewaktu dokter bilang, "it's quite difficult". Setelah proses selesai, barulah dokter menjelaskan kalau posisi rahim saya agak ke belakang sehingga dokter agak kesulitan saat memasukkan kateter. Selebihnya proses ET berlangsung dengan lancar. Tapi yang bikin sesak itu adalah harus nahan pipis. Lumayan lama lho. Perut harus diisi air sebelum ET. Lalu setelah ET, baru boleh pipis setelah 1/2 jam. Itu juga pipisnya di pispot yang dibawain suster di ruangan recovery soalnya belum boleh bergerak dulu selama 2 jam. Tapi saat itu pikiran saya, demi ya demi. Jadi semua rasa sakit, lelah hilang dalam sekejap.


***

Menulis pengalaman ini di blog untuk dibaca banyak orang bukanlah perkara mudah. Saya juga tidak terlalu banyak berbagi di sosial media perihal perjuangan saya dan suami dalam memperoleh keturunan. Namun kali ini saya pikir, begitu banyak orang yang juga berjuang dan butuh informasi. Saya terbantu karena Andra dan Sheggario berbagi ceritanya. Dan saya berharap, semoga cerita saya juga dapat membantu orang lain di luar sana. Setidaknya memberi sedikit pencerahan. Namun satu hal yang saya pelajari selama proses IVF ini, setiap tubuh memiliki sistemnya sendiri-sendiri. Kita tidak akan pernah bisa membandingkan kondisi tubuh kita dengan orang lain karena treatmentnya sudah pasti berbeda. Teliti dalam memilih dokter. Please make sure the doctor take a very good care of you and doesn't make rush decisions. Kalau perlu, cari second, third atau forth opinion. Saya tahu, memilih dokter terkadang cocok-cocokan. Namun yang bikin saya puas dengan Dr. Dev dan seluruh stafnya, saya percaya beliau benar-benar teliti dalam menghandle kasus saya. Beliau juga selalu memberi semangat pada kami.  Pernah suami bertanya pada dokter soal kekhawatirannya. Lalu sambil bergurau dokter menjawab, "you don't have to worry. This is not a unique case. A lot of people has the same problem as yours". Saya yakin, setiap pasiennya pasti merasa istimewa dengan treatment dan perhatiannya. Masuk ke ruang tunggu klinik Dr. Dev saya bertemu banyak orang, mostly Indonesians. Berbagi cerita dengan sesama pasien dengan segala latar belakang dan beragam macam perjuangannya. Saya merasakan energi positif and I feel there is hope. Would I recommend you to see Dr. Dev? Absolutely YES!


ps: This is my honest opinion based on my personal experience and I hope this post could help.


Saturday, February 14, 2015

PASSION FOR FASHION




Jujur saja, saya bukan pengikut fashion. Bukan berarti saya tak suka shopping, hanya saja fashion tidak terlalu menjadi prioritas saya. Sampai akhirnya saya memutuskan mengenakan hijab. Saya ingat betul kata-kata Ibu saya saat itu, meski berhijab bukan berarti tidak bisa terlihat fashionable. Justru dengan berhijab, seseorang itu lebih tertantang untuk dapat memadupadankan pakaiannya tapi harus tetap pada jalur. Bagaimana caranya agar pakaian yang sudah ada di lemari sebelum berhijab dapat digunakan secara maksimal tanpa mengenyampingkan hakikat utama berhijab. Sebelumnya, saya cukup nyaman dengan hanya mengenakan kaos, jeans, cardigans. Cuma itu andalan saya. Tapi sejak berhijab, saya semakin senang memadupadankan berbagai macam model pakaian diluar zona nyaman saya. Challenge accepted, pikir saya saat itu. Dan ternyata sesuatu yang tidak terlalu saya perhatikan itu malah menjadi passion saya yang terpendam sebelumnya.

Siapa yang menyangka beberapa tahun setelahnya saya malah menjadi seorang fashion stylist. Kesempatan itu datang ketika saya ditawari untuk bergabung dengan majalah Laiqa oleh duo Hanna dan Fifi. Awalnya mereka ingin saya ada di bagian tulis menulis. Namun akhirnya mereka menanyakan kesanggupan saya untuk beralih menjadi fashion stylist. Belum ada pengalaman profesional dalam styling, tapi saya yakin mampu memenuhi kesempatan tersebut. Akhirnya saya pun bergabung kedalam keluarga besar Laiqa selama kurang dari setahun. Bukan karena tidak suka dengan kerjaannya, tapi memang kerja kantoran sudah saya coret dari list. Rutinitas kantoran tidak membuat saya bahagia.

Berhenti kerja kantoran sejak akhir 2012 dan hingga saat ini menjadi freelance fashion stylist. Turns out, I love and enjoy it so much. Memang benar kata orang, if you love what you do then you will never work a day in your life.

Tuesday, February 10, 2015

MY MOTTO IN LIFE


Just bring the best in you and be the fantastical version of yourself!

Tuesday, January 27, 2015

HELLO 30!


Akhirnya hari ini datang juga. Yup, I'm turning 30 today! Bukan, bukan berarti hari ini sangat saya nantikan. Justru semakin mendekati hari ini saya semakin nervous. Deg-degan. Takut. Semua rasa campur aduk. Kata seorang teman, itu adalah perasaan yang normal. Apalagi kalau mengingat sudah usia segini tapi banyak target dan keinginan kita yang belum tercapai.

Ngomong-ngomong soal target, sekarang ini saya berusaha untuk tidak terlalu terpaku pada target. Usaha sih teteup harus. Hal ini saya lakukan agar tidak terlalu kecewa jika target saya tidak terpenuhi. Duh, kalau ingat sudah memasuki kepala 3, jadi kepikiran usia 20an saya dihabiskan untuk apa saja ya? Ah, sudahlah. Tak ada gunanya menyesali. Yang bisa saya lakukan saat ini adalah harus terus fokus usaha untuk menjadikan usia kepala 3 ini tidak sia-sia.

Mungkin salah satunya adalah dengan mengubah pola pikir. Terdengar mudah memang. Tapi saya yakin, pasti hal ini sangat sulit untuk direalisasikan. Sebenarnya saya ingin sekali menuliskan hal-hal yang seharusnya patut saya syukuri. Namun postingan ini bisa-bisa tidak akan berhenti saking panjangnya. Yang pasti, saya sangat bersyukur diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk bisa merasakan usia sepanjang ini. Artinya saya dipercayai untuk memperbaiki kesalahan saya di masa lalu dan diberikan kesempatan kedua untuk menjadi the best version of me.

Tapi satu yang pasti, menginjak usia segini saya sudah tidak boleh kezel kalau dipanggil Ibu. Anggap sajalah sebagai doa agar bisa segera beneran jadi Ibu. Meski usia bertambah, tapi jiwa harus selalu tetap muda dong ya!

As Mark Twain once said, "Age is an issue of mind over matter. If you don't mind, it doesn't matter".



Happy birthday, me!

Wednesday, July 23, 2014

PERECTLY BLEND


Since this holy month, I come to realize that I really need to add some more fruits into my menu. I  choose to be more healthy and starting new habit, drinking a glass of juice for iftaar and sahur. I actually skipped my sahur, and a glass of juice before bed keeps me fit all day long during fasting. The problem is, the blender that I had before couldn't blend the fruits properly. I can still taste the dregs, like there's no filtration in it. I have been looking for the right blender to fulfill my needs. I'm not only looking for function, but I also fond for design with reasonable price. Yes, I know it's quite difficult to find the one that I want. After reading some reviews and asking some friends, many of them suggested this.

Yes, the one and only Phillips ProBlend 6 Technology. The tagline says it all, "best blending, leaves no bits". Not only it can handle fruits and vegetables, but it can also crush some ice too. Nice, huh? The multi speed function is perfectly smooth blending in any consistency you want. And it's quite easy to use too. The light will turn on automatically when you put on the jar into the motor. Right after you hear the click sound, it means you're ready to go. Just push the ice crush or smoothie button, or just easily set the blender to the speed that you want with the control knob. The blade is positioned off center in the jar which create turbulence and mixing ingredients in the most effective way. The spatula is included for mixing ingredients. What I love most is the quality of the glass jar, not made of plastic, and it looks stylish too. The glass jar holds 1,5 litres of food and 2 litres of liquid.

So far, I am a happy juicer. I can easily do my own juice with this baby here even when my house maid is no longer available. Ah, well...


the closer look

Friday, March 1, 2013

THE AUTHENTIC TASTE OF ACEHNESE CUISINE


I grew up in a family who loves to eat and cook. My mom and her siblings have special talents in cooking, especially when it comes to Acehnese food. Most of the recipes came from our great great grand parents. So you can say the recipes are our legacy.

From long time ago, my mother have asked me to go find a place to rent for us to open a restaurant. But then, I was too busy with work. And later on the place was found last year. It took 2,5 months to renovate. Finally, we had our soft opening on Janury 25th, 2013. Despite all of the drama, the restaurant went well. We've had our ups and downs. But hey, it makes us stronger as a family. Then we also had the grand opening on February 14th, 2013. So far, most of the responses we had was good. But critics will always be there, no matter how good you are, right. We took the criticism as a ladder to help us to go higher and serve better.

Anyhoo, if you happen to crave for some spicy Acehnese food, you should go visit my restaurant. It is called Ayam Tangkap Blang Bintang at Jl. KH. Ahmad Dahlan No. 30 Kebayoran Baru, South Jakarta. Here's the map to reach there.





Ayam Tangkap is our specialty. It had become customer's favorite along with Sambal Ganja. No, there's nothing illegal about our signature Sambal Ganja or also known as Sambal Udang. It is the blend of belimbing wuluh mixed with fresh prawns. But we also have other menus as well, such as Ayam Goreng Khas Aceh, Kari Ayam, Kari Kambing, Sambal Keumamah, Mie Aceh and recently added Sup Ikan Khas Aceh. Other than that, we also have Acehnese coffee, such as Ice Coffee Mint, Sanger, and many more. As for the weekends, we also have special menu such as Gule Kepiting Khas Aceh, Kuah Beulangong, Kuah Plik U. Or whenever you crave for other Acehnese food that aren't on the menu, you can also order in two days notice.


What makes us different from other Acehnese restaurant, is that we keep the authenticity of the taste. Just like our tagline, The Authentic Taste of Acehnese Cuisine. You can visit our facebook fanpage or follow our Twitter account @AyamBlgBintang or our Instagram account @AyamTangkapBlangBintang to see photos, reviews and comments from our customers.


Ayam Tangkap Blang Bintang
Address: Jl. KH. Ahmad Dahlan No. 30 Kebayoran Baru, South Jakarta
Phone Number: 0813.1841. 1814
Facebook: Ayam Tangkap Blang Bintang
Twitter: @AyamBlgBintang
Instagram: @AyamTangkapBlangBintang