Wednesday, January 11, 2017

CERITA MELAHIRKAN

Seperti janji saya di postingan sebelumnya, saya ingin berbagi cerita melahirkan. Semoga saja tidak basi ya. Hehe.

Saat memasuki usia kehamilan 35 minggu, dokter mulai menanyakan kepada kami tanggal yang kami pilih untuk operasi cesar. Sebenarnya saya dan suami sih tidak punya tanggal khusus, yang penting si kembar bisa lahir cukup bulan dengan keadaan sehat dan lengkap semuanya. Di usia 35 minggu saya pun mulai suntik pematangan paru sebanyak 3 kali. Ini sebenarnya tindakan preventif mengingat kehamilan kembar sangat beresiko prematur. Bahkan ketika usia kehamilan 36 minggu, dokter bilang sebenarnya kalau saya mau operasi cesar sudah bisa dikerjakan. Namun saat itu saya masih berusaha ingin mencapai usia kehamilan 38 minggu. Saya dan suamipun sempat galau karena kami punya dua tanggal pilihan. 25 Mei yang jatuh pada hari Rabu dan sesuai tanggal pernikahan kami atau hari Jumat, 27 Mei agar tanggalnya sama dengan ulang tahun saya. Setelah melalui berbagai pertimbangan, kamipun mantap memutuskan operasi cesar dilakukan tepat saat usia kehamilan 38 minggu pada hari Rabu tanggal 25 Mei 2016.

Manusia cuma bisa berencana, namun keputusan terakhir selalu Tuhan yang menentukan. Pagi itu, Jumat tanggal 20 Mei 2016 saya berencana hendak melakukan tes darah di Prodia sebagai persiapan menjelang operasi cesar. Namun saat mandi, saya merasa ada air yang terus-terusan merembes dan tidak bisa saya kontrol. Saya buru-buru menyelesaikan mandi lalu bersiap-siap pakaian. Tapi masih sempat dandan sih sambil deg-degan nggak sabar. Pengen terlihat cantik saat bertemu dengan 2 malaikat kecil yang telah lama saya nantikan. Justru Mama Papa saya yang lebih panik ketika tahu air ketuban saya pecah sebelum waktunya. Kamipun buru-buru berangkat ke RS Pantai Indah Kapuk. Syukurlah jalanan pagi itu sangat bersahabat. Lancar dan tidak macet sama sekali. Suami saya yang sudah berada di kantor langsung menyusul ke PIK saat tahu ketuban saya pecah.

Sesampainya di rumah sakit, saya langsung dibawa ke ruang pemeriksaan sambil suster menelepon Dr. Handi untuk mengabarkan kondisi saya. Sebenarnya dokter sempat menyuruh suster untuk mengecek bukaan. Tapi saya keburu keringat dingin ketakutan saat suster berusaha memasukkan jari  akhirnya batal deh. Hehe. Operasi saya dijadwalkan pada pukul 12 siang, tepat saat shalat jumat berlangsung. Kebijakan di RS PIK, suami tidak diperkenankan untuk masuk saat operasi berlangsung. Dokter sih bilang kalau ingin mendokumentasikan bisa memberi kamera atau handphone pada suster. Tapi entah kenapa saya lupa, akhirnya sama sekali tidak ada dokumentasi apapun saat si kembar keluar dari rahim saya. Selama operasi berlangsung, saya masih sepenuhnya sadar cuma agak mati rasa di bagian pinggang ke bawah. Dokterpun terus mengajak saya ngobrol selama operasi. Hingga akhirnya pada pukul 12.54 terdengarlah suara anak lelaki yang menangis kencang. Disusul oleh teriakan bayi perempuan pada pukul 12.55. Alhamdulillah, wa syukurilah. Pertanyaan pertama saat si kembar lahir, "keduanya lengkap kan dok? Sehat tidak kurang apapun?". Biasalah, ketakutan ibu-ibu hamil yakan. Setelah keduanya keluar dari rahim, saya cium keduanya tanpa melihat mukanya secara jelas lalu barulah dibersihkan oleh para suster. Belakangan barulah dokter memberi tahu kalau ketuban saya pecah karena Jaziel sudah kesempitan di dalam perut.


Teuku Muhammad Jaziel Abdalla Machmud
 

Cut Nyak Jazea Amidala Machmud



 Bersama Nenek, Neknyak, Nekku dan Ayahcik

Nah, baru setelah operasi selesai saya ngerasa blank tuh. Cuma ingat dipindahin ke kamar terus abis itu udah nggak sadar sama sekali. Teler banget rasanya. Baru agak sadar jam 4 sore. Sempat kesal dan kaget karena saya belum bertemu si kembar setelah pertemuan sesaat di ruang operasi. Saat bertanya pada suster, katanya si kembar harus dirawat didalam inkubator karena berat badannya yang rendah. Ketika lahir, berat badan Jaziel 2,2kg dan Jazea 1,8kg. Susterpun bilang kalau anak-anak saya harus diberi susu formula karena tidak memungkinkan bagi saya untuk memberikan ASI. Padahal sejak awal saya sudah berniat dan sangat positif kalau bisa dan mau memberi ASI. Sempat terjadi perdebatan sengit sih sampai suami saya harus meminta bantuan Dr. Handi untuk ngomong ke dokter anak. Akhirnya saya dan suami harus menandatangani surat pernyataan kalau kami menolak beberapa tindakan dari rumah sakit. Saat itu agak deg-degan sih, takut mengambil keputusan yang salah. Tapi saya percaya insting saya sebagai seorang ibu. Apalagi bekal ilmu yang saya dapat ketika ikut kelas menyusui. Sayapun baru bisa bertemu dengan si kembar pada pukul 8 malam. Rasanya terharu sekali saat pertama kali bisa menggendong mereka di pelukan saya. Seperti mimpi.

 Berhubung fotonya tidak mengenakan jilbab, jadi terpaksa harus ditutupi stiker :))

Meski ASI saya sudah langsung keluar di hari pertama, tapi bukan berarti proses menyusui bisa mulus. Jaziel sih sudah bisa langsung nyedot dari awal tanpa perlu drama apapun. Jazea nih yang butuh perjuangan dan kesabaran untuk melatih supaya bisa menyedot dari payudara. Untuk para newborn, terutama mereka yang berat badannya rendah, diusahakan untuk disusui setiap 2 jam sekali. Karena Jaziel dan Jazea harus masuk dalam inkubator, jadi mereka tidak bisa rooming in dengan saya. Alhasil setiap 2 jam sekali saya harus menyusui mereka di ruang menyusui. Untungnya saya mendapat kamar yang berseberangan dengan ruang menyusui. Jadinya tidak terlalu capek untuk bolak balik. Pernah sangking excitednya, tengah malam saat suster masuk ke kamar saya untuk cek tensi, saya malah menyangka alat tensi itu adalah salah satu bayi yang ingin disusui. Kalau diingat, lucu juga sih ketemu dengan ibu-ibu lain yang juga menyusui anaknya. Saling bertukar cerita. Dan disitu saya baru tahu, ternyata ada susu formula vegetarian berbahan kedelai bagi bayi yang alergi susu sapi. Perjuangan sih memberi ASI pada bayi kembar, apalagi di masa-masa awal setelah operasi. Mengalami lecet sudah pasti. Bahkan kaki saya pernah bengkak banget karena sempat beberapa kali menyusui dengan keadaan kaki yang ngegantung. Padahal selama hamil kakinya tidak sampai mengalami pembengkakan. Sempat takut banget sih, tapi alhamdulillah bisa kembali normal setelah posisi menyusuinya benar.

Kaki bengkak pasca melahirkan karena posisi menyusui yang salah

 

Sebenarnya jatah saya berada di rumah sakit cuma 3 hari saja. Tapi karena bilirubin Jaziel dan Jazea sempat tinggi, dokter menyarankan agar mereka extend sampai bilirubinnya normal. Sebenarnya saya sudah bisa pulang, tapi tidak tega meninggalkan si kembar di rumah sakit. Akhirnya sayapun ikut nambah hari. Dokter anak pun memberi target kepada saya dan suami untuk bisa menaikkan berat badan si kembar agar bisa cepat pulang. Saya semangat banget tuh pengen ngebuktiin ke pak dokter kalau ASI saya cukup buat si kembar. Alhamdulillah setelah 1 minggu menginap di rumah sakit, berat badan dan bilirubin Jaziel Jazea normal sehingga kamipun diperbolehkan pulang.

Punya anak, apalagi kembar itu bukan hanya perlu persiapan mental dan fisik tapi juga perlu dipikirkan persiapan finansial. Biaya melahirkan kembar saja ada tambahan sampai 50% dibandingkan persalinan biasa. Setelah melahirkan, harus mempersiapkan lagi biaya pendidikan. Tiap kali mendengar pengalaman teman soal biaya masuk sekolah cukup bikin tegang sih. Sanggup nggak ya? Nah, bagi teman-teman yang tengah hamil dan mempersiapkan persalinan, coba deh ikutan lomba yang diadakan oleh @womanation.id. Hadiahnya menarik sekali loh. Biaya persalinan gratis di RS Brawijaya dan asuransi pendidikan dari Avrist Assurance. Caranya gampang banget:
  1. Follow instagram @womanation.id, @avristassurance dan @rs_bwch
  2. Posting foto kehamilanmu dan ceritakan pengalaman dan perjuanganmu dalam mendapatkan buah hati serta mengapa kamu harus jadi pemenang. Jangan lupa sertakan hashtag #womanationID #womanationforMOMS
  3. Tag @womanation.id, @avristassurance @rs_bwch serta 5 orang sahabat perempuan kamu di foto tersebut
  4. Akunnya jangan dilock ya, agar cerita kamu dapat direpost
Kompetisi ini berlangsung sampai 15 Januari 2017. Pemenang akan diumumkan pada tanggal 30 Januari 2017. Info lengkap bisa hubungi ke 087889557553 (WA only).

Avrist Assurance adalah perusahaan asuransi jiwa patungan pertama di Indonesia yang telah berdiri sejak tahun 1975. Dengan konsep "Avrist Total Solution", Avrist menyediakan berbagai solusi keuangan untuk asuransi jiwa, asuransi kecelakaan dan kesehatan, asuransi berbasis syariah, asuransi jiwa kredit dan pensiun untuk perorangan maupun korporasi. Sejak tahun 2010, Avrist bermitra dengan Meiji Yauda Life (Meiji Yasuda Life Insurance Company) yang merupakan salah satu pemimpin pasar industri asuransi jiwa di Jepang dengan pengalaman lebih dari 130 tahun. Berlandaskan visi "Satu polis Avrist di setiap rumah tangga di Indonesia", Avrist berkomitmen untuk memajukan kehidupan gemilang yang bermakna bagi karyawan, mitra bisnis dan nasabahnya.

Coba lomba ini diadakan saat saya hamil dulu, ya ;)

No comments:

Post a Comment